Umar dan Gadis Pemerah Susu

Umar dan Gadis Pemerah Susu (pesan moral harga sebuah kejujuran). Siapa yang nggak kenal Umar bin Khottob. Salah satu Kholifah Islam yang pada masa kepemimpinannya, Islam seolah menemukan ruang aplikasinya. Seorang pemimpin yang ditempa manusia terbaik sepanjang sejarah peradaban, yaitu Rasulullah saw. Tegas, adil, bijaksana dan segala kebaikan lain yang sudah sepantasnya tersemat padanya. Seorang kholifah yang rajin berjalan malam untuk sidak kehidupan sehari-hari rakyatnya. Seorang yang awalnya memusuhi dakwah Islam, kemudian jadi pembela syariatnya. Lain halnya dengan Gadis dalam cerita ini. Bukan keturunan orang terpandang, tidak pernah disebut dalam sejarah siapa bapaknya. Seolah ia hidup dalam didikan seorang ibu yang single parent kalau dalam istilah sekarangnya. Tapi berkat kejujurannya, kisah hidupnya mendunia.

Umar dan Gadis Pemerah Susu
Gadis Pemerah Susu yang Jujur

Umar dan Gadis Pemerah Susu dalam Obrolan Malam dengan sang Ibu

Umar adalah kholifah yang terkenal dengan gelar Amirul Mukminin. Sudah menjadi kebiasaan Umar tiap malam berkeliling pelosok kota Madinah, untuk mengecek kehidupan rakyatnya. Ketika melewati sebuah gubuk, Khalifah Umar merasa curiga melihat lampu yang masih menyala. Di dalamnya terdengar suara orang berbisik-bisik.
Khalifah Umar menghentikan langkahnya. Beliau penasaran ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Dari balik bilik Kalifah umar mengintipnya. Tampaklah seorang ibu dan anak perempuannya sedang sibuk mewadahi susu.

“Bu, kita hanya mendapat beberapa kaleng hari ini,” kata anak perempuan itu.
“Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit.”
“Benar anakku,” kata ibunya.
“Tapi jika padang rumput mulai menghijau lagi pasti kambing-kambing kita akan gemuk. Kita bisa memerah susu sangat banyak,” harap anaknya.
“Hmmm….., sejak ayahmu meninggal penghasilan kita sangat menurun. Bahkan dari hari ke hari rasanya semakin berat saja. Aku khawatir kita akan kelaparan,” kata ibunya.
Anak perempuan itu terdiam. Tangannya sibuk membereskan kaleng-kaleng yang sudah terisi susu.
“Nak,” bisik ibunya seraya mendekat.

Menolak Perintah Orang Tua, jika Bermaksiat kepada Allah

“Kita campur saja susu itu dengan air. Supaya penghasilan kita cepat bertambah.”
Anak perempuan itu tercengang. Ditatapnya wajah ibu yang keriput. Wajah itu begitu lelah dan letih menghadapi tekanan hidup yang amat berat. Ada rasa sayang yang begitu besar di hatinya. Namun, ia segera menolak keinginan ibunya.
“Tidak, bu!” katanya cepat.
“Khalifah melarang keras semua penjual susu mencampur susu dengan air. Ia teringat sanksi yang akan dijatuhkan kepada siapa saja yang berbuat curang kepada pembeli.
“Mengapa engkau dengarkan Khalifah itu? Setiap hari kita selalu miskin dan tidak akan berubah kalau tidak melakukan sesuatu,” sela ibunya kesal.
“Ibu, hanya karena kita ingin mendapat keuntungan yang besar, lalu kita berlaku curang pada pembeli?”
“Tapi, tidak akan ada yang tahu kita mencampur susu dengan air! Tengah malam begini tak ada yang berani keluar. Khalifah Umar pun tidak akan tahu perbuatan kita,” kata ibunya tetap memaksa.”Ayolah, Nak, mumpung tengah malam. Tak ada yang melihat kita!”
“Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur susu dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti mengetahui segala perbuatan kita serapi apa pun kita menyembunyikannya”, tegas anak itu. 
Ibunya hanya menarik nafas panjang. Sekalipun agak kecewa dengan keputusan anaknya, namun di lubuk hatinya ia begitu kagum akan kejujuran anaknya itu.
“Aku tidak mau melakukan ketidak-jujuran pada waktu ramai maupun sepi. Aku yakin Allah tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap saat,”kata anak itu. 
Tanpa berkata apa-apa, ibunya pergi ke kamar. Sedangkan anak perempuannya menyelesaikan pekerjaannya hingga beres. Di luar bilik, Khalifah Umar tersenyum kagum akan kejujuran anak perempuan itu.
” Sudah sepantasnya ia mendapatkan hadiah!” gumam khalifah Umar. Khalifah Umar beranjak meniggalkan gubuk itu.Kemudian ia cepat-cepat pulang ke rumahnya.

Umar dan Gadis Pemerah Susu yang Akhirnya Diambil Sebagai Menantunya

Keesokan paginya, Khalifah Umar memanggil putranya, Ashim bin Umar. Di ceritakannya tentang gadis jujur penjual susu itu.
” Anakku, menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya, ” kata khalifah Umar. “
“Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai gadis jujur seperti dia. Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang Maha Melihat.”
Ashim bin Umar menyetujuinya. Beberapa hari kemudian Ashim melamar gadis itu. Betapa terkejut ibu dan anak perempuan itu dengan kedatangan rombongan khalifah dan putranya. Mereka mengkhawatirkan akan di tangkap karena suatu kesalahan.
“Tuan, saya dan anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual susu. Tuan jangan tangkap kami….,” sahut ibu tua ketakutan. Putra khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak menyunting anak gadisnya.   “Bagaimana mungkin?   Tuan adalah seorang putra khalifah , tidak selayaknya menikahi gadis miskin seperti anakku?” tanya seorang ibu dengan perasaan ragu.
” Khalifah adalah orang yang tidak ,membedakan manusia. Sebab, hanya taqwa lah yang meninggikan derajat seseorang di sisi Allah,” kata Ashim sambil tersenyum.
“Ya. Aku lihat anakmu sangat jujur,” kata Khalifah Umar. Anak gadis itu saling berpandangan dengan ibunya. Bagaimana khalifah tahu? Bukankah selama ini ia belum pernah mengenal mereka.
“Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar pembicaraan kalian…,” jelas khalifah Umar.   Ibu itu bahagia sekali. Khalifah Umar ternyata sangat bijaksana. Menilai seseorang bukan dari kekayaan tapi dari kejujurannya.
Umar dan Gadis Pemerah Susu
Si Gadis Pemerah Susu yang Jujur akhirnya Jadi Menantu Kholifah Umar

Khalifah yang Adil & Bijaksana itu ternyata Cucu Umar dan Gadis Pemerah Susu

Sesudah Ashim menikah dengan gadis itu, kehidupan mereka sangat bahagia. Keduanya membahagiakan orangtuanya dengan penuh kasih sayang.
Dari kedua pasangan yang bersih inilah kelak akan lahir keturunan seorang yang akan menjadi khalifah umat Islam. Yaitu cucu mereka yang bernama Umar bin Abdul Aziz. Yang menjadi khalifah dengan gaya kepemimpinan sangat mirip seperti pendahulunya yaitu Umar bin Khaththab.
Menurut suatu riwayat, ketika Beliau (Umar bin Abdul Aziz) dinobatkan menjadi Khalifah, beliau ketakutan luar biasa. Beliau selama 3 hari 3 malam mengurung diri karena menahan beratnya tanggung jawab yang akan dipikulnya. Kehidupannya berubah dari berkecukupan harta menjadi miskin dan menerima gaji hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari keluarganya saja. Beliau menolak gaji tinggi. Badannya yang dulu gemuk menjadi kurus selama menjadi khalifah.
Ketika asistennya menceritakan mimpinya bahwa di dalam mimpinya itu dipaparkan pendahulu-pendahulu khalifah. Yang diseret ke neraka satu persatu. Ketika tibanya menceritakan tentang diri beliau (Umar bin Abdul Aziz) dalam mimpi tersebut, Khalifah Umar bin Abdul Aziz langsung pingsan. Setelah siuman lalu diberitahu bahwa beliau melewati shirathal mustaqim dengan selamat hingga ke Syurga… Demikianlah kisah Khlifah Umar dan gadis Pemerah susu, semoga ada manfaatnya.

Pesan Moral Kisah Umar dan Gadis Pemerah Susu

Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari kisah Umar dan Gadis Pemerah Susu. Kisah yang selalu up to date dari masa Umar bin Khottob, sekarang dan yang akan datang. Beberapa kesimpulan yang bisa saya catat dari kisah di atas.
  1. Jika Anda pemimpin, jadilah seperti Umar, yang begitu peduli, perhatian dan tanggung jawab pada rakyatnya. Buat regulasi yang tegas untuk kemakmuran rakyat.
  2. Jika Anda orang tua, carikan jodoh untuk anak-anak mu orang yang jujur, patokan utama adalah agamanya.
  3. Untuk para gadis, teruslah berperilaku jujur. Jodoh itu urusan Allah, akan diberikan kepada siapapun yang di Kehendaki-Nya.
  4. Coba bayangkan berapa anak kecil yang akan terpercik susu yang didalamnya ada dusta/kecurangan, susu itu membentuk perilaku anak yang pendusta.
  5. Kejujuran itu pasti berbuah, entah berapa lama. Hingga dari keturunan Umar dan gadis pemerah susu itu lahirlah seorang kholifah yang jujur, amanah dan adil.

Ikuti terus kisah terbaik, untuk motivasi diri dalam kebaikan di facebook Umroh Samara dan twitter kami. Silahkan share ke sahabat dan sanak family agar semakin viral efek kebaikannya.

 

Tinggalkan komentar