Mengasah Logika Berfikir

Banyak kisah inspirasi yang mampu menggugah nalar kritis kita. Kisah-kisah tersebut sangat biasa dihadapan kita, sering kita saksikan. Namun tak mampu membuat kita sadar akan hikmahnya. ternyata dengan adanya permisalan, baru bisa kita cerna. Seperti kisah ini, dialog antara seorang Dosen dan Mahasiswa kritis yg telah menemukan jatidirinya. Berikut sajian kisah mengasah logika berfikir, semoga pembaca bisa ambil pelajaran darinya.

Mengasah Logika Berfikir

Mengasah Logika Berfikir

Seorang profesor yang Atheis berbicara dalam sebuah kelas fisika. Dengan gayanya yang khas dia memulai kuliahnya.

Profesor: “Apakah Allah menciptakan segala yang ada?”

Para mahasiswa: “Betul! Dia pencipta segalanya.”

Profesor: “Jika Allah menciptakan segalanya, berarti Allah juga menciptakan kejahatan.”

(Semua terdiam. Agak kesulitan menjawab hipotesis profesor itu).

Tiba-tiba suara seorang mahasiswa memecah kesunyian.

Mahasiswa: “Prof! Saya ingin bertanya. Apakah dingin itu ada?”

Profesor: “Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja, dingin itu ada.”

Mahasiswa: “Prof! Dingin itu tidak ada. Menurut hukum fizik, yang kita anggap dingin sebenarnya adalah ketiadaan panas. Suhu -460 degree Fahrenheit adalah ketiadaan panas sama sekali. Semua partikel menjadi diam. Tidak boleh bertindak pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata ‘dingin’ untuk mengungkapkan ketiadaan panas ya.

Keberanian Yang Dilandasi Keimanan

Kedudukan satu kosong. Sang Dosen tampak kikuk dihadapan mahasiswanya. Rupanya dialog tak berhenti sampai disitu. Mahasiswa tersebut terus bertanya kepada dosennya.

Mahasiswa: Prof…Apakah gelap itu ada?”

Profesor: “Tentu saja ada!”

Mahasiswa: “Anda salah lagi Prof! Gelap juga tidak ada. Gelap adalah keadaan di mana tiada cahaya. Cahaya boleh kita pelajari. Sedangkan gelap tidak boleh. Kita boleh menggunakan prisma Newton untuk mengurai cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari panjang gelombang setiap warna.

Tapi! Anda tidak boleh mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur melalui berapa besar intensiti cahaya di ruangan itu. Kata ‘gelap’ dipakai manusia untuk menggambarkan ketiadaan cahaya.

Mahasiswa makin membuat sang dosen mati kutu. Tentu butuh perjuangan ekstra untuk dialog dengan dosen tersebut. Keberanian yang berlandaskan keimanan telah mampu membuat si Mahasiswa menunjukkan kebenaran. Dia juga sangat ingin mengasah logika berfikir dosennya.

Mengasah Logika Berfikir
Keberanian yang Dilandasi Keimanan

Allah Tidak Menciptakan Kejahatan

Melihat situasi semakin mendukungnya. Demi mengasah logika berfikir mahasiswa tersebut terus mencecar pertanyaan kepada dosennya.

Jadi menurut Bapak, apakah kejahatan, kemaksiatan itu ada?”

Profesor mulai bimbang tapi menjawab juga: “Tentu saja ada.”

Mahasiswa: “Sekali lagi anda salah Prof! Kejahatan itu tidak ada. Allah tidak menciptakan kejahatan atau kemaksiatan. Seperti dingin dan gelap juga. Kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk menggambarkan ketiadaan Allah dalam dirinya. Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Allah dalam hati manusia.”

Profesor terpaku dan terdiam!

Dosa Lahir Saat Iman Tidak Hadir dalam Hati Kita

Dari dialog di atas kita bisa ambil hikmah bahwa Allah tidak menciptakan kejahatan, kemaksiatan, kedzoliman. Dosa adalah akibat perbuatan. Dosa terjadi karena manusia lupa hadirkan Allah dalam hatinya..

Hadirkan Allah dalam hati pada setiap saat, maka akan selamatlah diri kita. Itulah IMAN. Sesungguhnya dosa itu lahir saat iman tidak hadir dalam hati kita.

Terima kasih sudah mengunjungi Umroh Samara. Ikuti terus kisah hikmah penuh inspirasi di Embun Pagi. Semoga bermanfaat untuk mengasah logika berfikir kita dan umat. Silahkan mampir ke fan page kami Umroh Samara.

Tinggalkan komentar