Kisah Umrohnya Nabi Muhammad

Kisah Umrohnya Nabi Muhammad

Umroh saat ini sudah menjadi life style / gaya hidup masyarakat. Berbondong-bondong tiap hari umat Islam dari berbagai penjuru datang ke Makkah Madinah untuk menunaikan ibadah umroh. Ada yang seumur hidup baru sekali menginjakkan kaki di Tanah Suci. Namun tak sedikit yang sudah berulang kali umroh, ada yang tiap tahun berangkat umroh. Bahkan ada yang dua atau tiga kali umroh dalam setahun. Banyak umat Islam yang tidak tahu kisah umrohnya Nabi Muhammad saw. Berapa kali Nabi Muhammad saw melaksanakan umroh dalam hidupnya?

Kisah Umrohnya Nabi Muhammad SAW

Kisah Umrohnya Nabi Muhammad
Kisah Umrohnya Nabi Muhammad

Kaum Muslim yang dipimpin Nabi Muhammad SAW semuanya berpakaian Ihram putih. Umat Islam tidak membawa senjata karena tujuan mereka Ke Makkah adalah untuk beribadah di Ka’bah. Inilah kisah umrohnya nabi Muhammad saw yang pertama.

Mendekati kota Makkah kaum Muslimin berhenti dan berkemah disuatu tempat bernama Hudaibiyah. Kaum Muslimin yang siap berjihad di tenda-tenda mereka sudah tidak sabar untuk masuk ke Makkah. Untuk melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah.

Kaum Qurais bersiap-siap menghadang mereka dengan kekerasan dan tegang. Dipuncak ketegangan ini kaum Qurais mengirim Suhail bin Arm untuk berunding dengan Nabi Muhammad SAW. Setelah menjalani perundingan yang alot akhirnya dicapai kesepakatan.

Rasulullah setuju untuk membatalkan tawaf ke Ka’bah tahun ini. Kembali bersama pengikutnya ke Madinah dan baru boleh kembali tahun berikutnya. Sesuai perjanjian pada waktu itu kaum Qurais akan meninggalkan Makkah selama tiga hari. Untuk memberi kesempatan Nabi dan kaum Muslimin melaksanakan umroh. Kesepakatan ini dinamaka Perjanjian Hudaibiyah.

Umroh Qadha Pengganti Umroh Pertama Yang Tertahan di Haudaibiyah

Sungguh itu bukan pemandangan lazim. Hari itu, kaum Qurais berbondong-bondong meninggalkan Makkah. Tua, muda dan anak-anak, laki-laki maupun perempuan, tanpa kecuali. Orang-orang itu mendaki bukit-bukit di sekitar Makah. Perhatian mereka tertuju pada kepulan debu yang membubung dari arah utara.

Ya, dari utara, dari arah Madinah sekitar 2000 orang tengah mendekati Makah. Mereka adalah rombongan Nabi Muhammad Rasulullah. Setahun sebelumnya, dalam jumlah yang lebih kecil, Nabi Muhammad dan para sahabat telah mencoba memasuki Mekah untuk ziarah. Perjalanan itu tertahan di Hudaibiyah. Nabi dan rombongan tidak dibolehkan masuk Makkah. Nabi suka damai, karena niat awal memang mau umroh, sehingga umat Islam saat itu tidak mengadakan perlawanan. Akhirnya di tempat itu kedua pihak meneken perjanjian. Dalam perjanjian itu, Muhammad dan rombongan baru boleh datang ke Makah setahun kemudian. Jika saat itu tiba, kaum Qurais akan menyingkir sementara dari Makah.

Setahun telah berlalu. Pada bulan suci ini, Nabi Muhammad benar-benar datang bersama umat Islam lainnya. Mereka semua larut dalam seruan “labbaika, labbaika” yang tak putus-putusnya membahana. Sudah sekitar tujuh tahun meninggalkan kota tempat ka’bah itu berada. Kini “rumah Allah” tersebut telah berada di hadapannya. Inilah kisah umrohnya Nabi Muhammad yang kedua, karena yang pertama gagal di Hudaibiyah.

Muhammad menyelempangkan jubah ke pundak kirinya. Dibiarkannya pundak dan lengan kanannya terbuka. Saat itu pula, ia berdoa “Allahumarham, amra-a arahumulyauma min nafsihi quwwata.”

Yang artinya “Ya Allah, berikan rahmat kepada orang yang hari ini telah memperlihatkan kemampuan dirinya.”

Nabi Melaksanakan Thawaf

Nabi Muhammad lalu melangkah menyentuh hajar aswad di sudut ka’bah. Lalu Beliau berlari kecil hingga Rukun Yamani atau sudut selatan yang merupakan sudut ketiga. Kemudian berjalan kembali untuk menyentuh hajar aswad. Hal demikian dilakukannya tiga kali. Selebihnya Muhammad mengelilingi ka’bah dengan arah yang berlawanan dengan putaran jarum jam itu dengan berjalan kaki. Ribuan umat Islam mengikuti setiap gerakan Muhammad. Sebuah pemandangan yang mempesona orang-orang Qurais yang menyaksikan dari lereng-lereng bukit.

Abdullah bin Rawaha tidak dapat menahan diri untuk larut dalam suasana tersebut. Ia nyaris meneriakkan tantangan perang pada Qurais. Namun Umar bin Khattab mencegahnya. Sebagai pelampiasannya, Umar menyarankan Abdullah untuk meneriakkan kata yang sekarang cukup terkenal sampai sekarang. Yaitu “La ilaha illallah wahdah, wanashara abdah, wa’a’azza jundah, wakhadalal ahzaba wahdah”.  Yang artinya “Tiada Tuhan selain Allah Yang Esa, yang menolong hamba-Nya, memperkuat tentara-Nya dan menghancurkan sendiri musuh yang bersekutu.”

Abdullah terus mengulang-ulang kalimat tersebut yang diikuti hampir seluruh umat Islam. Kata-kata itu terus bergema, menghunjam hati-hati orang Qurais yang hanya dapat menyaksikan dari jauh.

Nabi Muhammad Melaksanakan Sa’i

Usai mengelilingi ka’bah, Muhammad yang mengendarai kendaraannya, menuju bukit Shafa. Dari sana Rasul bergerak ke bukit Marwa, dan kembali ke bukit Shafa lagi hingga tujuh kali perjalanan. Perjalanan yang sekarang disebut sa’i ini diyakini sebagai upaya menapaktilasi perjuangan keluarga Nabi Ibrahim, khususnya Siti Hadjar. Saat membangun baitullah, berabad-abad sebelumnya. Usai Sa’i, sesuai tradisi orang-orang Arab masa itu, Muhammad pun bercukur rambut atau tahalul kemudian memotong kurban.

Esok harinya, Muhammad memasuki ka’bah dan terus berada di sana sampai tiba salat dzuhur. Sebagaimana di Madinah, Bilal bin Rabah, kemudian naik ke atap bangunan untuk mengumandangkan azan. Rasul pun menjadi imam salat berjamaah di sana, di antara patung-patung yang masih banyak terdapat di sekitar ka’bah.

Muhammad tinggal di Mekah selama tiga hari. Setelah itu, ia dan rombongan kembali ke Madinah. Ada dua keuntungan yang diperolehnya dalam perjalanan kali ini. Ia dan rombongan bukan saja dapat menunaikan ibadah umrah -yang sering disebut pula sebagai Umrah Pengganti (Umratul Qadha). Sebaliknya Nabi Muhammad juga berhasil merebut hati tokoh-tokoh penting Qurais.

Hikmah Ilaihiyah dari Kisah Umrohnya Nabi Muhammad SAW

Saat Muhammad di perjalanan menuju Madinah itu, Khalid bin Walid mengejarnya dan menyatakan diri masuk Islam. Khalid adalah seorang muda yang menjadi komandan paling cerdik pasukan Qurais. Kelak ia banyak berperan dalam sejumlah ekspedisi militer kalangan Islam. Setelah Khalid, Amr bin Ash serta Ustman anak Talha yang menjadi penjaga ka’bah, menyusul masuk Islam. Setelah Rasul wafat, Amr banyak menimbulkan persoalan terutama menyangkut perselisihannya dengan Ali bin Abu Thalib.

Umrah ditunaikan. Kota Mekah tinggal sesaat lagi untuk sepenuhnya berada dalam kendali Rasulullah.

Pengikut Nabi SAW, yaitu kaum Muhajirin dan kaum Anshar telah menyatu di Madinah yang sudah sepenuhnya dikuasai umat Islam. Secara militer posisi Nabi Muhammad SAW sudah jauh lebih kuat. Setelah menghadapi tiga perang penting, Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq atau Perang Ahzab.

Kejatuhan Makkah yang dikuasai Qurais tinggal menunggu waktu. Dan semakin melemah akibat blokade ekonomi kaum Muslim yang menguasai jalur perdagangan dengan Syiria.

Demikianlah secara singkat kisah umrohnya Nabi Muhammad Saw. Umroh yang ketiga terjadi setelah Raslullah menaklukan Makkah. Sedang umroh ke empat atau yang terakhir dilaksanakan Rasulullah saat Haji Wada’. Jadi dalam sejarah hidupnya Rasulullah 3 kali melaksanakan umroh.

Dipersembahkan oleh: umrohsamara.com Ikuti informasi terkait Umroh dan Haji di facebook melalui fan page Umroh Samara.

Disadur dari kisah umrohnya Nabi Muhammad saw


Tinggalkan komentar