Ghibah dan Fitnah

Ghibah atau ngrasani atau gosip ternyata memiliki dampak yang luar biasa bahayanya. Namun banyak diantara kita yang nggak ngeh, nggak paham, nggak tahu dan nggak menyadari efek bahayanya. Terlebih di era media sosial ini, dimana dengan mudahnya sesuatu dalam sekejap menjadi viral atau menyebar ke mana-mana. Pantas kalau dalam Islam Allah melalui lidah Rasul Nya melarang perbuatan ghibah ini. Bahkan orang yang ghibah laksana makan daging saudaranya sendiri. Berikut kisah hikmah dibalik ghibah dan fitnah dan kemoceng yang bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua.

Ghibah dan Fitnah
Ghibah dan Fitnah (sumber Tebar Hikmah)

Kisah Hikmah Ghibah dan Fitnah

Dialog berikut adalah kisah yang menggugah. Kisah antara seorang santri yang menyadari bahwa tanpa sengaja dirinya telah ghibah pada gurunya Kyai Husain. Kisah ini sangat baik, sederhana dan mudah dicerna, untuk pelajaran kita semua.

Pengakuan Tulus Seorang Santri

Aku datang ke rumah Kyai Husain.

“Kyai, maafkan saya yang telah mengghibah & sangat mungkin menjadi fitnah kepada kyai. Jadi ajarkan sesuatu yang dapat menghapuskan dosa saya ini.”

Aku tunduk & berharap Kyai mau memaafkannya.

“Apa kau serius?” Kata kyai.

Aku mengangguk “Saya serius, Kyai. Saya benar-benar ingin menebus kesalahan saya.”

Kyai diam sejenak lalu berucap

“Aku maafkan kesalahanmu. Tapi apakah kau punya kemoceng dirumah?”

“Ya, saya punya Kyai. Tapi maaf Kyai, apa hubungannya antara ghibah, fitnah & kemoceng? Lalu apa yang harus saya lakukan dengan kemoceng itu?”

Kyai Husain tersenyum.

“Kamu akan tahu setelah kau lakukan perintahku.
Besok pagi, berjalanlah dari rumahmu ke pondokku,” kata Kyai sambil lanjutkan kalimatnya,

“Berjalanlah sambil mencabuti bulu-bulu Kemoceng itu. Setiap kali kau cabut sehelai bulu, ingat-ingat perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kau lalui.”

Aku hanya bisa mengangguk. “Aku tak akan membantahnya”, bisikku dlm hati.

Ghibah dan Fitnah
Efek Ghibah dan Fitnah seperti Bulu Kemoceng Terhambur ke Segala Penjuru

“Barangkali maksud kyai Husain agar aku merenungkan kesalahan-kesalahanku. Dan dengan menjatuhkan bulu-bulunya satu per satu, maka kesalahan-kesalahan itu akan gugur diterbangkan waktu. Aku berguman & masih tetap tertunduk…”

Aku tersadar ketika Kyai berkata selanjutnya.

“Kau akan belajar sesuatu darinya.”

Taat pada Perintah Kyai

Keesokan harinya, Aku menemui Kyai Husain dengan sebuah kemoceng yang sudah tak memiliki sehelai bulupun pada gagangnya. Kuserahkan gagang kemoceng itu pada beliau.

“Ini, Kyai, bulu-bulu kemoceng ini sudah saya jatuhkan satu persatu sepanjang 5 km perjalanan dari rumah saya.

Saya menghitung betapa luasnya ghibah dan fitnah – fitnah saya tentang Kyai yang sudah saya sebarkan kepada begitu banyak orang.
“Maafkan saya, kyai. Maafkan saya…”

Kyai Husain mengangguk sambil berkata “Seperti aku katakan, aku sudah memaafkanmu. Barangkali kau hanya khilaf dan hanya mengetahui sedikit tentangku. Tetapi kau harus belajar sesuatu…,” katanya.

Aku terdiam mendengar perkataan Kyai Husain yang lembut, menyejukkan hati.

“Kini pulanglah…” kata Kyai Husain.

Aku baru akan beranjak untuk pamit dan mencium tangannya, tetapi Kyai Husain melanjutkan kalimatnya,

“Pulanglah lewat jalan yang sama saat kau menuju pondokku tadi…”

Aku terkejut mendengar permintaan kyai Husain kali ini, apalagi mendengarkan “syarat” berikutnya:

“Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu-bulu kemoceng yang tadi kaucabuti satu per satu. Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang bisa kau kumpulkan.”

Aku terdiam & tak mungkin menolak permintaan Kyai Husain.

“Kau akan mempelajari sesuatu dari semua ini,” tutup Kyai Husain.

Sepanjang perjalanan pulang, Aku berusaha mencari bulu-bulu kemoceng yang tadi kulepas.

Namun dlm cuaca kering & terik matahari, Aku hanya mampu temukan 5 lembar bulu kemoceng.

Hikmah Antara Ghibah dan Kemoceng

Esok harinya dengan wajah murung kutemui Kyai Husain & serahkan lima helai bulu kemoceng itu.

“Ini, Kyai, hanya ini yang berhasil saya temukan.”

Sambil membuka genggaman tangan kuserahkan 5 helai bulu pada Kyai Husain.

Kyai Husain terkekeh.

“Kini kau telah belajar sesuatu,”katanya.

“Apa yang telah aku pelajari, Kyai? Aku benar-benar tak mengerti”.

“Tentang ghibah & fitnah-fitnah itu,” jawab kyai Husain.

Tiba-tiba Aku tersentak, dadaku berdebar & mulai berkeringat.

“Bulu-bulu yang kaucabuti dan kaujatuhkan sepanjang perjalanan adalah ghibah dan fitnah – fitnah yang kausebarkan. Meskipun kau benar-benar menyesali perbuatanmu dan berusaha memperbaikinya. Ghibah dan fitnah – fitnah itu telah menjadi bulu-bulu yang beterbangan entah kemana. Bulu-bulu itu adalah kata-katamu. Mereka dibawa angin ke mana saja. Ke berbagai tempat yang tak mungkin bisa kau duga-duga. Ke berbagai wilayah yang tak mungkin bisa kau perkirakan!”

Tiba-tiba Aku menggigil mendengarkan kata-kata Kyai Husain. Seolah-olah ada mata pisau yang menghujam jantungku.

Ingin Aku menangis sekeras-kerasnya & ingin mencabut lidahku sendiri.

Sesal Kemudian Tiada Guna

Kyai Husain meneruskan kata2nya

“Bayangkan salah satu dari ghibah dan fitnah -fitnah itu suatu saat kembali pada dirimu sendiri… Barangkali kau akan berusaha meluruskannya, karena kau benar-benar merasa bersalah telah menyakiti orang lain dengan kata-katamu itu. Barangkali kau tak tak ingin mendengarnya lagi. Tetapi kau tak bisa menghentikan semua itu!
Kata-katamu yang telah terlanjur tersebar dan terus disebarkan di luar kendalimu, tak bisa kau bungkus lagi. Meskipun dalam sebuah kotak besi untuk kau kubur dalam-dalam sehingga tak ada orang lain lagi yang mendengarnya. Angin waktu telah mengabadikannya.”

“ Ghibah dan Fitnah -fitnah itu telah menjadi dosa yang terus beranak-pinak tak ada ujungnya.

Agama menyebutnya sebagai dosa jariyah. Dosa yang terus berjalan diluar kendali pelaku pertamanya. Maka tentang ghibah dan fitnah – fitnah itu, meskipun aku atau siapapun saja yang kau ghibah & kau fitnah telah memaafkanmu. Tapi ghibah dan fitnah -fitnah itu terus mengalir hingga kau tak bisa membayangkan ujung dari semuanya. Stop ghibah dan fitnah sekarang juga.

Ghibah dan Fitnah

Bahkan meskipun kau telah meninggal dunia, ghibah dan fitnah -fitnah itu terus hidup karena angin waktu telah membuatnya abadi. Maka kau tak mungkin bisa menghitung lagi berapa banyak ghibah dan fitnah – fitnah itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak.

Tangisku benar-benar pecah, Aku tersungkur di lantai.
“Astagfirulloh hal-adzhim… Astagfirullohal-adzhim…
Astagfirulloh hal-adzhim…”

Allah Maha Mengampuni Dosa-dosa

Aku hanya bisa terus mengulangi istighfar. Dadaku gemuruh. Air mata menderas dari kedua ujung mataku.

“Ajari saya apa saja untuk membunuh ghibah dan fitnah – fitnah itu, Kyai. Ajari saya! Ajari saya! Astagfirulloohal-adzhim…”

Aku terus menangis menyesali apa yang telah aku perbuat.

Kyai Husain tertunduk. Beliau tampak meneteskan air matanya. “Aku telah memaafkanmu setulus hatiku, Nak,” katanya. “Kini, aku hanya bisa mendoakanmu agar Allah mengampunimu, mengampuni kita semua. Kita harus percaya bahwa Allah, dengan kasih sayangnya, adalah zat yang maha terus menerus menerima taubat manusi.  Innallooha tawwaabur-rahiim…”

“Kini kau telah belajar sesuatu,” kata Kyai Husain, setengah berbisik. Pipinya masih basah oleh air mata.

Demikianlah sahabat & saudaraku. Itulah kenapa, ghibah apalagi fitnah itu “KEJAM”.

Mari kita senantiasa istigfar & berdoa

Ya Alloh ampuni dosa2 kami, lindungi kami dari godaan iblis yg terkutuk.

Lindungi lisan kami agar kami berhati-hati atas setiap huruf & kata2 yg terlontar dari bibir ini.
Ya Alloh ringankan bibir kami ini agar basah untuk berdzikir mengagungkan AsmaMU.

Demikian bahayanya efek dari ghibah dan fitnah, terlebih di era medsos seperti sekarang ini. Ayo lebih baik, stop ghibah dan fitnah sekarang juga. Ikuti kisah penuh hikmah di Embun Pagi, agar nurani kita bening sebening embun pagi. Ikuti pula fan page umroh samara untuk mendapatkan info terkini terkait umroh dan haji Plus.

Tinggalkan komentar