Puisi Terakhir WS Rendra

WS Rendra adalah salah satu pujangga terbaik Indonesia. Lahir di Surakarta 7 November 1935. Sejak muda, dia menulis puisi, skenario drama, cerpen, dan esai sastra di berbagai media massa. Karyanya tidak hanya menghiasi belantara sastra nusantara tapi juga manca negara. Memperkaya khasanah budaya bangsa. Puisi puisi nya berisi kitrik nan nyentrik dan menggelitik. Ada pula yang bernuasa religius seperti puisi terakhir WS Rendra yang di buat sesaat sebelum dia wafat.

Puisi Terakhir WS Rendra

Puisi Terakhir WS Rendra

Orang besar terkenang hingga akhir jaman dengan karya-karya besarnya. Biasanya orang besar memiliki sensitivitas khusus terhadap tanda-tanda alam yang Allah kirimkan. Sehingga menjelang detik-detik terakhirnya biasanya ia menyampaikan untaian hikmah terbaik. Seperti halnya puisi terakhir WS Rendra ini.

Hidup itu seperti UAP, yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap !!
Ketika Orang memuji MILIKKU,
aku berkata bahwa ini HANYA TITIPAN saja.

Bahwa mobilku adalah titipan-NYA,
Bahwa rumahku adalah titipan-NYA,
Bahwa hartaku adalah titipan-NYA,
Bahwa putra-putriku hanyalah titipan-NYA …

Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya,
MENGAPA DIA menitipkannya kepadaku?
UNTUK APA DIA menitipkan semuanya kepadaku.

Dan kalau bukan milikku,
apa yang seharusnya aku lakukan untuk milik-NYA ini?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-NYA?

Malahan ketika diminta kembali,
kusebut itu MUSIBAH,
kusebut itu UJIAN,
kusebut itu PETAKA,
kusebut itu apa saja …
Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah DERITA….

Ketika aku berdo’a,
kuminta titipan yang cocok dengan
KEBUTUHAN DUNIAWI,
Aku ingin lebih banyak HARTA,
Aku ingin lebih banyak MOBIL,
Aku ingin lebih banyak RUMAH,
Aku ingin lebih banyak POPULARITAS,

Dan kutolak SAKIT,
Kutolak KEMISKINAN,
Seolah semua DERITA adalah hukuman bagiku.

Seolah KEADILAN dan KASIH-NYA,
harus berjalan seperti penyelesaian matematika
dan sesuai dengan kehendakku.

Aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita itu menjauh dariku,
Dan nikmat dunia seharusnya kerap menghampiriku …

Betapa curangnya aku,
Kuperlakukan DIA seolah Mitra Dagang ku
dan bukan sebagai Kekasih!

Kuminta DIA membalas perlakuan baikku
dan menolak keputusan-NYA yang tidak sesuai dengan keinginanku …

Duh ALLAH …

Padahal setiap hari kuucapkan,
Hidup dan Matiku, Hanyalah untuk-MU ya ALLAH, AMPUNI AKU, YA ALLAH …

Mulai hari ini,
ajari aku agar menjadi pribadi yang selalu bersyukur
dalam setiap keadaan
dan menjadi bijaksana,
mau menuruti kehendakMU saja ya ALLAH …

Allah Pasti Memberi Yang Terbaik Untuk Kita

Sebab aku yakin….
ENGKAU akan memberikan anugerah dalam hidupku …
KEHENDAKMU adalah yang ter BAIK bagiku ..

Ketika aku ingin hidup KAYA,
aku lupa,
bahwa HIDUP itu sendiri
adalah sebuah KEKAYAAN.

Ketika aku berat utk MEMBERI,
aku lupa,
bahwa SEMUA yang aku miliki
juga adalah PEMBERIAN.

Ketika aku ingin jadi yang TERKUAT,
….aku lupa,
bahwa dalam KELEMAHAN,
Tuhan memberikan aku KEKUATAN.

Ketika aku takut Rugi,
Aku lupa,
bahwa HIDUPKU adalah
sebuah KEBERUNTUNGAN,
kerana AnugerahNYA.

Ternyata hidup ini sangat indah, ketika kita selalu BERSYUKUR kepada NYA

Bukan karena hari ini INDAH kita BAHAGIA.
Tetapi karena kita BAHAGIA,
maka hari ini menjadi INDAH.

Bukan karena tak ada RINTANGAN kita menjadi OPTIMIS.
Tetapi karena kita optimis, RINTANGAN akan menjadi tak terasa.

Bukan karena MUDAH kita YAKIN BISA.
Tetapi karena kita YAKIN BISA.!
semuanya menjadi MUDAH.

Bukan karena semua BAIK kita TERSENYUM.
Tetapi karena kita TERSENYUM, maka semua menjadi BAIK,

Tak ada hari yang MENYULITKAN kita, kecuali kita SENDIRI yang membuat SULIT.

Bila kita tidak dapat menjadi jalan besar,
cukuplah menjadi JALAN SETAPAK
yang dapat dilalui orang,

Bila kita tidak dapat menjadi matahari,
cukuplah menjadi LENTERA
yang dapat menerangi sekitar kita,

Bila kita tidak dapat berbuat sesuatu untuk seseorang,
maka BERDOALAH untuk
kebaikan.

 

* Puisi terakhir WS Rendra
di buat sesaat sebelum dia wafat)*

Terima kasih telah bekunjung ke website kami. Dapatkan kisah penuh makna sebagai embun pagi  inspirasi buat kita dalam menjalani kehidupan. Jika sahabat UmSa berkunjung ke facebook, sudilah kiranya mampir di fan page kami.

Ammar Buah Kesabaran di Ujung Harapan

Ammar Buah Kesabaran di Ujung Harapan

Kota Riyadh ternyata menyimpan banyak kisah dan rahasia. Yang mana kisah tersebut hanya diperlihatkan pada telinga yang mau mendengar dan hati yang mau merasa. Seperti kisah Ammar buah kesabaran di ujung harapan yang ada di hadapan Anda ini. Kisah yang mengharu biru, menguras air mata. Kisah pertarungan seorang ayah yang rela jauh dari keluarga demi sesuap nasi. Jika hidayah itu adalah kehendak-Nya dan hanya akan diberikan kepada mereka yang mencarinya. Maka sebaliknya kesabaran itu dari hamba dan akan dibalas berlipat ganda oleh Allah Yang Maha Kaya, jika kita sanggup melakukannya.

Ammar Buah Kesabaran di Ujung Harapan

Ada sebuah energi yang luar biasa ketika beberapa hari yang lalu kudengar cerita dari beberapa sahabatku. Mereka berasal dari Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka Mesir, Afrika dan Saudi Arabia . Salah satunya adalah teman dari Sudan.
Aku mengenalnya dengan nama Ammar Mustafa, dia salah satu muslim kulit hitam yang juga bekerja di hotel ini. Beberapa bulan belakangan aku tak lagi melihatnya. Biasanya ia bekerja bersama pekerja lain menggarap proyek bangunan di tengah terik matahari kota Riyadh .

Hari itu Ammar tidak terlihat, karena penasaran, saya coba tanyakan kepada Iqbal .
“Oh kamu tidak tahu?” jawabnya balik bertanya dengan bahasa Inggris khas India.
“Iya, beberapa minggu ini dia tak terlihat di mushola.”
Selepas itu tanpa diduga Iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar.

Ternyata Amar datang ke kota Riyadh lima tahun lalu. Ia datang ke negeri ini dengan tangan kosong. Nekad pergi meninggalkan keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di kota ini. Saudi Arabia memang memberikan free visa untuk negara negara Arab lainnya termasuk Sudan. Maka Ammar bisa bebas mencari kerja disini asal punya pasport dan tiket.

Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat. Do’a Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini demi keluarganya ternyata saat itu belum terkabul. Dia bekerja berpindah pindah dengan gaji yang sangat kecil. Uang gajinya tidak sanggup untuk membayar apartemen hingga ia tinggal bersama teman temannya. Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan. Ia tetap mencari kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di Sudan.

Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat. Bulan ketiga hingga tahun tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung berakhir. Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah pindah di kota ini.

Bertahan Dalam Kesabaran Meskipun Hidup Serba Kurang

Bekerja dibawah tekanan panas matahari dan suasana kota yang garang, tapi amar tetap bertahan dalam kesabaran.

Ammar Buah Kesabaran di Ujung Harapan
Kuli kerja Keras di Tengah Panas Terik Matahari

Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu caranya untuk mendapatkan uang, dihutan bahkan lebih baik. Di hutan kita masih bisa menemukan buah buah, tapi di kota? Kota adalah belantara penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing.

Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia. Hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 Jam jarak tempuh dengan bis menuju Makkah. Di hampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung saat panas. Disini hanya terlihat kurma kurma yang berbuah satu kali dalam setahun..

Amar seperti terjerat di belantara kota ini. Pulang ke Sudan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah. Ia harus membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya disana, itu tekadnya. Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya. Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit. Meski harus ditukar dengan lapar dan haus untuk raganya disini.
Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan dahaga dan lapar. Sambil terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di Sudan.

Di tahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu dengan teman temannya yang ia kenal. Sudah lima tahun ia berpindah pindah kerja dan numpang di teman temannya tapi kehidupannya tidak kunjung berubah. Ia memutuskan untuk pulang ke Sudan, tekadnya bulat untuk kembali berkumpul keluarganya di Sudan.

Saat itu ia tidak memiliki uang meski sebatas tiket pulang. Ia terpaksa menceritakan keinginannya untuk pulang kepada teman2 terdekatnya. Dan salah satu teman baik Ammar memberinya sejumlah uang untuk tiket ke Sudan.
Hari itu juga Ammar berpamitan pada teman2nya, ia pergi ke sebuah agen perjalanan di Olaya- Riyadh, untuk membeli tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh-Sudan minggu ini susah didapat karena konflik di Libya, negara tetangganya. Tiket hanya tersedia untuk kelas executive.

Ammar dengan Sabar Menginap di Masjid

Akhirnya ia membeli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya. Tiket sudah ditangan, dan jadwal terbang masih minggu depan. Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya.Tadi pagi ia tidak sarapan , siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan keadaan itu.

Adzan dzuhur bergema, semua toko toko, supermarket, bank, dan kantor pemerintah serentak menutup pintu dan menguncinya. Security kota berjaga jaga di luar kantor menunggu hingga waktu shalat berjamaah selesai. Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh. Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu, membasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting dengan air. Lalu ia masuk ke dalam mesjid, shalat 2 rakaat untuk menghormati masjid. Ia duduk menunggu mutawwa memulai shalat berjamaah.
Hanya disaat shalat itulah dia merasakan kesejukan. Ia merasakan terlepas dari beban dunia yang menghimpitnya. Hingga hatinya berada dalam ketenangan ditiap menit yang ia lalui.

Shalat telah selesai. Ammar masih bingung kemana harus melangkah, sedangkan penerbangan masih seminggu lagi. Dilihatnya beberapa mushaf Al Qur’an yang tersimpan rapi di pilar pilar mesjid yang kokoh itu. Ia mengambil salah satunya. Bibirnya mulai bergetar membaca taawudz dan terus membaca al Qur’an hingga adzan ashar tiba menyapanya. Selepas maghrib ia masih di sana. Akhirnya Ammar memutuskan untuk tinggal disana hingga jadwal penerbangan ke Sudan tiba.

Ammar memang telah terbiasa bangun awal di setiap harinya. Seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota. Ia selalu mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa jiwa untuk shalat, membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing. Adzannya memang khas. Hingga bukan sebuah kebetulan juga jika Prince (Putra Raja Saudi) di kota itu juga terpanggil untuk shalat subuh berjamaah disana. Adzan yang juga ia kumandangkan disetiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di kota Riyadh.

Ammar Buah Kesabaran di Ujung Harapan
Seminggu Penantian di Masjid, Ammar jadi Muadzin

Delay Pesawat yang Membawa Berkah

Di tiket tertulis jadwal penerbangan ke Sudan jam 05:23 am. Artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau 2 jam sebelumnya. Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid. Uuntuk mencari bis menuju bandara King Abdul Azis, Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30 menit dari pusat Kota.

Amar sudah duduk diruang tunggu bandara, tampaknya penerbangan sediikit tertunda. Ammar melamun dan kecemasan mulai menghantui dirinya. Ia harus pulang tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ia terus bekerja keras.
Namun ia memahami, inilah kehidupan dan dunia hanyalah persinggahan sementara. Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatannya dengan Penggenggam Alam semesta dengan mengeluh. Ia tetap berjalan walau tertatih memenuhi kewajiban sebagai Hamba Allah, dan sebagai imam dalam keluarganya.

Tiba tiba dari speaker bandara terdengar suara memanggil namanya. Belum hilang rasa terkejutnya, tiba2 datang sekelompok orang berbadan tegap menghampirinya. Mereka membawa Ammar ke mobil tanpa basa basi, mereka hanya berkata “Prince memanggilmu”. Ammar semakin bingung ada apa Prince memanggilnya?
Kerajaan Saudi memiliki banyak Prince dan Princess (Putra dan Putri Kerajaan). Mereka tersebar hingga ratusan diseluruh jazirah Arab ini dan tinggal di istana masing masing.

Setiap kali Ammar adzan Prince selalu bangun dan merasa terpanggil untuk sholat. Hingga suatu hari suara Ammar beradzan tak terdengar lagi . Prince merasa kehilangan dan saat mengetahui bahwa sang muadzin pulang kenegerinya. Dia langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan segera menjemput Ammar .

Ammar sudah tiba di istana dan Prince menyambutnya dengan ramah. Sambil menanyakan mengapa Ammar ingin kembali ke negerinya. Lalu ia mulai bercerita bahwa sudah lima tahun bekerja di kota Riyadh. Tapi tak pernah mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya di Sudan.

Buah Kesabaran Ammar di Bayar Cash

Prince mengangguk nganguk dan bertanya:
“Berapakah gajimu dalam satu bulan?”
Amar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji berbulan bulan. Prince memakluminya, lalu beliau bertanya lagi:
“Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu terima ?”
Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun ini.
“Alhamdulilah, SR 1.400 “, jawab Ammar.

Prince langsung memerintahkan bendahara untuk menghitung 1.400 Real dikali dengan 5 tahun (60 bulan). Dan hasilnya adalah SR 84.000 (84 Ribu Real = Rp. 184. 800.000). Lalu Prince menyerahkan uang tersebut kepada Ammar.

Tubuh Amar gemetar melihat keajaiban dihadapannya, belum selesai bibir mengucapkan Al Hamdalah, Prince menghampiri dan memeluknya seraya berkata:
“Aku tahu cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan. Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini, lalu kembalilah setelah 3 bulan. Saya siapkan tiket untuk kamu dan keluargamu kembali ke kota Riyadh. Jadilah Bilal di masjidku dan hiduplah bersama kami di Palace ini.“

Ammar tak dapat menahan air matanya. Ia bukan terharu karena menerima sejumlah uang walau uang itu sangat besar artinya bagi keluarganya yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini benar. Allah sungguh sungguh memperhatikan hambanya, kesabaran selama lima tahun berakhir dengan indah. Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan Ammar.

Semua berubah dalam sekejap, lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Ammar. Tapi nothing imposible for Allah, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak.

Ini kisah nyata yang tokohnya masih berada di kota Riyadh. Saat ini Ammar hidup cukup di sebuah rumah di dalam istana milik Prince. Ammar dianugerahi Allah hidup yang baik didunia, menjabat sebagai Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat kota Riyadh.
Subhanallah….seperti itulah buah dari kesabaran.

Buah Kesabaran Itu Manis Pada Akhirnya

“Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya.
Jika kamu mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu cukup berarti pribadimu belum mampu menetapi kesabaran. Karena Sabar itu tak ada batasnya. Batas kesabaran itu terletak didekat pintu Syurga dalam naungan keridhaan Nya”.

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

”Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar. Dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (Al Fushilat 35)

Allahu akbar! Maha Benar Allah dengan segala Firman Nya.

Kisah nyata yang memberi pelajaran pada kita semua. Insya Allah yg terbaik akan diberikan Allah pada mereka yang berdo’a dengan ikhlas dan terus berusaha.

Ikuti kisah motivasi untuk mengasah hati di facebook dan twitter Umroh Samara.

Yacouba Sawadogo Mengubah Padang Pasir Menjadi Hutan

Yacouba Sawadogo

Kisah inspiratif Yacouba Sawadogo, lelaki yang menghentikan badai padang pasir. Siapa itu Yacouba Sawadogo ? Mengapa kisah lelaki ini sangat inspiratif dan jadi viral di medsos ? Yacouba Sawadogo hidup di tengah sabuk gurun pasir Sahel, Sahara, Burkina Fasso, Afrika. Tahun 1970-an, daerah ini adalah neraka dunia. Suhu panas menyerang tulang, badai pasir menggulung desa-desa menjemput maut.

Ternak mati, tanaman enggan hidup, ribuan orang tewas kelaparan. Hanya ada satu dua jenis tanaman yang tahan, dan hanya ada semut-semut dan rayap gurun yang betah di situ. Hujan datang hanya setahun sekali. Begitu turun, airnya pergi dan menguap lagi dengan cepat. Air pun tak mau berakrab ria dengan manusia-manusia di situ. Dataran segera menjadi panas lagi. Angin pun memuai dan menjadi badai.

Yacouba Sawadogo
Yacouba Sawadogo di Tengah Hutan Buatannya
Yacouba Sawadogo

Yacouba Sawadogo Mengubah Padang Pasir Menjadi Hutan Nan Hijau

Yacouba tak ingin menyerah. Dia yakin bahwa tanah, air dan matahari seharusnya menjadi kawan bagi manusia. Dia memikirkan bagaimana menghentikan badai, menabung air, dan menghadirkan lagi hutan. Berbekal cangkul dia menggali ratusan lubang, kira-kira seukuran 60×60 cm. Ke dalam lubang, dia masukkan daun-daun tetanaman.

Kemudian, dia bongkar gunung-gunung kecil sarang semut dan rayap, dan memindahkan semut itu ke lubang-lubang itu. Maka semut dan rayap memakan daun itu. Kemudian, semut dan rayap itu menggali lebih dalam lagi lubang-lubang itu. Mereka membentuk semacam terowongan-terowongan kecil yang menghubungkan ratusan lubang itu satu sama lain.

Ketika hujan turun, maka air mengisi lubang dan urat-urat buatan rayap-rayap ini. Air terperangkap di situ lebih lama, dan menjadikan tanah basah dan lembab. Kemudian mulailah Yacouba menebar bibit pohon keras maupun tanaman pangan jewawut (barley).

Sistem pengelolaan alam seperti ini dalam bahasa lokal disebut zai. Dari saat menggali lubang hingga menanam bibit, penduduk setempat menyebut dia orang sinting.

Bagaimana mungkin tumbuhan bisa hidup di padang pasir. Tapi Yacouba bergeming. Dia tetap yakin dengan tindakannya. Betul…Perubahan kelembaban tanah itu berbuah. Bibit yang ditanam tumbuh! Pohon keras tumbuh! Jewawut tumbuh. Dari tahun 1975 saat dia gali lubang, hingga 2005, sudah 25 hektar padang pasir terhijaukan. Sekarang mungkin lebih.

Yacouba Sawadogo
Yacouba Sawadogo Sendirian Mencangkul Padang Pasir

Jerih Payah Yang Berbuah, Kehidupan Itu Akhirnya Datang

Hutan tumbuh mengundang datangnya burung. Di kaki burung menempel berbagai biji yang dia bawa dari belahan lain Afrika. Maka tumbuh pulalah bibit itu menjadi pohon. Makin luaslah daerah hijau. Dataran Sahel hijau lagi, penduduk tak lagi sulit mencari air. Tak ada lagi kelaparan karena setiap saat mereka panen jewawut. Kendaraan bermotor roda tiga bulak-balik memanen jewawut.

Daerah itu menjadi hijau, tanah menjadi subur dan lembab. Suhu di situ tak terlalu panas sehingga tak terbentuk angin panas yang mengamuk dan menebar badai. Orang gila itu ternyata mampu membangun surga kecil di tengah Sahara.
Yacouba adalah contoh bagaimana memperlakukan air, tanah dan matahari sesuai dengan tepat. Zai adalah kearifan lokal dalam mengelola alam.

Yacouba menjadi inspirasi Afrika dan dunia. Dia begitu dihargai dan dihormati. Metoda zai-nya dipraktikkan di beberapa bagian Afrika, dan berhasil. Dua atau tiga puluh tahun lagi padang pasir Afrika mungkin akan jadi hutan lagi. Sementara hutan-hutan kita hilang, dan kita takut tanah air kita menjadi padang pasir… Janganlah…

The Man Who Stopped the Desert

Kisah Yacouba Sawadogo yang inspiratif ini kini telah didokumentasikan dalam bentuk film documenter. Judulnya The Man Who Stopped the Desert. Dan berikut video trailer dari film tersebut yang kami ambil dari YouTube.


Sumber : Salamov Rijadic

Kisah Inspiratif Yang Harus Kita Jadikan Teladan

Yacouba Sawadogo adalah legenda lingkungan. Semangat juangnya pantas kita jadikan teladan. Adanya mimpi besar adalah merubah padang pasir menjadi hutan adalah visi. Bekerja tiada pamrih, siang malam tak kenal lelah adalah aksinya. Hutan hijau menghampar di bumi Afrika adalah buah kerja kerasnya.

Ikuti terus kisah-kisah inspiratif dari umrohsamara.com. Silahkan share ke sahabat, keluarga, relasi dan orang-orang yang Anda cinta, agar kebaikan tersebar mewarnai kehidupan. Agar semakin banyak orang yang mendapat inspirasi.

Inspirasi Bob Sadino

Inspirasi Bob Sadino

Bambang Mustari Sadino (lahir di Tanjung Karang (sekarang Bandar Lampung), 9 Maret 1933. Meninggal di Jakarta, 19 Januari 2015 pada umur 81 tahun. Akrab dipanggil Bob Sadino. Beliau adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat santai dengan mengenakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya sehari-hari. Berikut kita sajikan kutipan kata-kata inspirasi Bob Sadino yang Luar biasa……!!! 

Inspirasi Bob Sadino
Bob Sadino Pengusaha yang Menginspirasi

Kata-kata Inspirasi Bob Sadino

Jarang orang bisa menginspirasi orang lain. Kecuali ia memang punya kelebihan khusus yang nggak dimiliki orang lain. kemampuan itu ada pada beliau Bob Sadino. Inilah 11 kutipan kata inspirasi Bob Sadino:

  1. Membawa selusin bodyguard bukan jaminan keamanan. Tapi rendah hati, ramah, dan tidak mencari musuh, itulah kunci keamanan.
  2. Obat dan vitamin bukan jaminan hidup sehat. Jaga ucapan, jaga hati, istirahat cukup, makan dengan gizi seimbang dan olahraga yang teratur, itulah kunci hidup sehat.
  3. Rumah mewah bukan jaminan keluarga bahagia. Saling mengasihi, menghormati, dan memaafkan, itulah kunci keluarga bahagia.
  4. Gaji tinggi bukan jaminan kepuasan hidup. Bersyukur, berbagi, dan saling menyayangi, itulah kunci kepuasan hidup.
  5. Kaya raya bukan jaminan hidup terhormat. Tapi jujur, sopan, murah hati, dan menghargai sesama, itulah kunci hidup terhormat.
  6. Hidup berfoya-foya bukan jaminan banyak sahabat. Tapi setia kawan, bijaksana, mau menghargai, menerima teman apa adanya dan suka menolong, itulah kunci banyak sahabat.
  7. Kosmetik bukan jaminan kecantikan. Tapi semangat, kasih, ceria, ramah, dan senyuman, itulah kunci kecantikan.
  8. Satpam dan tembok rumah yang kokoh bukan jaminan hidup tenang. Hati yang damai, kasih dan tiada kebencian itulah kunci ketenangan dan rasa aman.
  9. Hidup kita itu sebaiknya ibarat “bulan & matahari”—dilihat orang atau tidak, ia tetap bersinar. Dihargai orang atau tidak, ia tetap menerangi. Diterimakasihi atau tidak, ia tetap “berbagi”.
  10. Jika Anda bilang Anda susah, banyak orang yang lebih susah dari Anda. Jika Anda bilang Anda kaya, banyak orang yang lebih kaya dari Anda. Di atas langit, masih ada langit. Suami, istri, anak, jabatan, harta adalah “titipan sementara”. Itulah kehidupan.
  11. Nikmatilah hidup selama Anda masih memilikinya dan terus belajar untuk bersyukur dengan keadaanmu…! Karena Anda tidak akan tahu kapan Sang Pemilik Raga akan datang dan mengatakan pada Anda, “Ini saatnya pulang!”— memaksa Anda meninggalkan apa pun yang Anda cintai, dan Anda banggakan.

Kata-kata Indah nan Menggugah

Kalo kita perhatikan penggalan-penggalan kalimat di atas, sungguh luar biasa maknanya. Berisi nasihat bijak bak pujangga, padahal beliau bukan ahli sastra. Berisi nasihat yang memikat, padahal keluar bukan dari bibir ustadz. Kira-kira apa yang pas buat mengungkapkan hal di atas…? Yang pasti itulah pengalaman pribadi dari nurani beliau sendiri. Sangat indah memikat, bak prosa pujangga. Inspirasi Bob Sadino berisi nasehat yang menginspirasi siapapun yang membacanya. Dapatkan pula inspirasi program solusi, yang insya Allah bisa menjadi wasilah bagi Anda untuk menjadi Pengusaha. Sama seperti Bob Sadino, kalo beliau bisa, kenapa Anda tidak…?

Bantu share ke orang-orang yang Anda cinta, jika inspirasi di atas bermanfaat buat mereka. Jika berkenan silahkan mampir di Fan Page Umroh Samara.