Ammar Buah Kesabaran di Ujung Harapan

Ammar Buah Kesabaran di Ujung Harapan

Kota Riyadh ternyata menyimpan banyak kisah dan rahasia. Yang mana kisah tersebut hanya diperlihatkan pada telinga yang mau mendengar dan hati yang mau merasa. Seperti kisah Ammar buah kesabaran di ujung harapan yang ada di hadapan Anda ini. Kisah yang mengharu biru, menguras air mata. Kisah pertarungan seorang ayah yang rela jauh dari keluarga demi sesuap nasi. Jika hidayah itu adalah kehendak-Nya dan hanya akan diberikan kepada mereka yang mencarinya. Maka sebaliknya kesabaran itu dari hamba dan akan dibalas berlipat ganda oleh Allah Yang Maha Kaya, jika kita sanggup melakukannya.

Ammar Buah Kesabaran di Ujung Harapan

Ada sebuah energi yang luar biasa ketika beberapa hari yang lalu kudengar cerita dari beberapa sahabatku. Mereka berasal dari Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka Mesir, Afrika dan Saudi Arabia . Salah satunya adalah teman dari Sudan.
Aku mengenalnya dengan nama Ammar Mustafa, dia salah satu muslim kulit hitam yang juga bekerja di hotel ini. Beberapa bulan belakangan aku tak lagi melihatnya. Biasanya ia bekerja bersama pekerja lain menggarap proyek bangunan di tengah terik matahari kota Riyadh .

Hari itu Ammar tidak terlihat, karena penasaran, saya coba tanyakan kepada Iqbal .
“Oh kamu tidak tahu?” jawabnya balik bertanya dengan bahasa Inggris khas India.
“Iya, beberapa minggu ini dia tak terlihat di mushola.”
Selepas itu tanpa diduga Iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar.

Ternyata Amar datang ke kota Riyadh lima tahun lalu. Ia datang ke negeri ini dengan tangan kosong. Nekad pergi meninggalkan keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di kota ini. Saudi Arabia memang memberikan free visa untuk negara negara Arab lainnya termasuk Sudan. Maka Ammar bisa bebas mencari kerja disini asal punya pasport dan tiket.

Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat. Do’a Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini demi keluarganya ternyata saat itu belum terkabul. Dia bekerja berpindah pindah dengan gaji yang sangat kecil. Uang gajinya tidak sanggup untuk membayar apartemen hingga ia tinggal bersama teman temannya. Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan. Ia tetap mencari kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di Sudan.

Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat. Bulan ketiga hingga tahun tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung berakhir. Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah pindah di kota ini.

Bertahan Dalam Kesabaran Meskipun Hidup Serba Kurang

Bekerja dibawah tekanan panas matahari dan suasana kota yang garang, tapi amar tetap bertahan dalam kesabaran.

Ammar Buah Kesabaran di Ujung Harapan
Kuli kerja Keras di Tengah Panas Terik Matahari

Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu caranya untuk mendapatkan uang, dihutan bahkan lebih baik. Di hutan kita masih bisa menemukan buah buah, tapi di kota? Kota adalah belantara penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing.

Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia. Hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 Jam jarak tempuh dengan bis menuju Makkah. Di hampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung saat panas. Disini hanya terlihat kurma kurma yang berbuah satu kali dalam setahun..

Amar seperti terjerat di belantara kota ini. Pulang ke Sudan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah. Ia harus membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya disana, itu tekadnya. Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya. Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit. Meski harus ditukar dengan lapar dan haus untuk raganya disini.
Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan dahaga dan lapar. Sambil terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di Sudan.

Di tahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu dengan teman temannya yang ia kenal. Sudah lima tahun ia berpindah pindah kerja dan numpang di teman temannya tapi kehidupannya tidak kunjung berubah. Ia memutuskan untuk pulang ke Sudan, tekadnya bulat untuk kembali berkumpul keluarganya di Sudan.

Saat itu ia tidak memiliki uang meski sebatas tiket pulang. Ia terpaksa menceritakan keinginannya untuk pulang kepada teman2 terdekatnya. Dan salah satu teman baik Ammar memberinya sejumlah uang untuk tiket ke Sudan.
Hari itu juga Ammar berpamitan pada teman2nya, ia pergi ke sebuah agen perjalanan di Olaya- Riyadh, untuk membeli tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh-Sudan minggu ini susah didapat karena konflik di Libya, negara tetangganya. Tiket hanya tersedia untuk kelas executive.

Ammar dengan Sabar Menginap di Masjid

Akhirnya ia membeli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya. Tiket sudah ditangan, dan jadwal terbang masih minggu depan. Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya.Tadi pagi ia tidak sarapan , siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan keadaan itu.

Adzan dzuhur bergema, semua toko toko, supermarket, bank, dan kantor pemerintah serentak menutup pintu dan menguncinya. Security kota berjaga jaga di luar kantor menunggu hingga waktu shalat berjamaah selesai. Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh. Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu, membasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting dengan air. Lalu ia masuk ke dalam mesjid, shalat 2 rakaat untuk menghormati masjid. Ia duduk menunggu mutawwa memulai shalat berjamaah.
Hanya disaat shalat itulah dia merasakan kesejukan. Ia merasakan terlepas dari beban dunia yang menghimpitnya. Hingga hatinya berada dalam ketenangan ditiap menit yang ia lalui.

Shalat telah selesai. Ammar masih bingung kemana harus melangkah, sedangkan penerbangan masih seminggu lagi. Dilihatnya beberapa mushaf Al Qur’an yang tersimpan rapi di pilar pilar mesjid yang kokoh itu. Ia mengambil salah satunya. Bibirnya mulai bergetar membaca taawudz dan terus membaca al Qur’an hingga adzan ashar tiba menyapanya. Selepas maghrib ia masih di sana. Akhirnya Ammar memutuskan untuk tinggal disana hingga jadwal penerbangan ke Sudan tiba.

Ammar memang telah terbiasa bangun awal di setiap harinya. Seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota. Ia selalu mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa jiwa untuk shalat, membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing. Adzannya memang khas. Hingga bukan sebuah kebetulan juga jika Prince (Putra Raja Saudi) di kota itu juga terpanggil untuk shalat subuh berjamaah disana. Adzan yang juga ia kumandangkan disetiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di kota Riyadh.

Ammar Buah Kesabaran di Ujung Harapan
Seminggu Penantian di Masjid, Ammar jadi Muadzin

Delay Pesawat yang Membawa Berkah

Di tiket tertulis jadwal penerbangan ke Sudan jam 05:23 am. Artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau 2 jam sebelumnya. Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid. Uuntuk mencari bis menuju bandara King Abdul Azis, Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30 menit dari pusat Kota.

Amar sudah duduk diruang tunggu bandara, tampaknya penerbangan sediikit tertunda. Ammar melamun dan kecemasan mulai menghantui dirinya. Ia harus pulang tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ia terus bekerja keras.
Namun ia memahami, inilah kehidupan dan dunia hanyalah persinggahan sementara. Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatannya dengan Penggenggam Alam semesta dengan mengeluh. Ia tetap berjalan walau tertatih memenuhi kewajiban sebagai Hamba Allah, dan sebagai imam dalam keluarganya.

Tiba tiba dari speaker bandara terdengar suara memanggil namanya. Belum hilang rasa terkejutnya, tiba2 datang sekelompok orang berbadan tegap menghampirinya. Mereka membawa Ammar ke mobil tanpa basa basi, mereka hanya berkata “Prince memanggilmu”. Ammar semakin bingung ada apa Prince memanggilnya?
Kerajaan Saudi memiliki banyak Prince dan Princess (Putra dan Putri Kerajaan). Mereka tersebar hingga ratusan diseluruh jazirah Arab ini dan tinggal di istana masing masing.

Setiap kali Ammar adzan Prince selalu bangun dan merasa terpanggil untuk sholat. Hingga suatu hari suara Ammar beradzan tak terdengar lagi . Prince merasa kehilangan dan saat mengetahui bahwa sang muadzin pulang kenegerinya. Dia langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan segera menjemput Ammar .

Ammar sudah tiba di istana dan Prince menyambutnya dengan ramah. Sambil menanyakan mengapa Ammar ingin kembali ke negerinya. Lalu ia mulai bercerita bahwa sudah lima tahun bekerja di kota Riyadh. Tapi tak pernah mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya di Sudan.

Buah Kesabaran Ammar di Bayar Cash

Prince mengangguk nganguk dan bertanya:
“Berapakah gajimu dalam satu bulan?”
Amar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji berbulan bulan. Prince memakluminya, lalu beliau bertanya lagi:
“Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu terima ?”
Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun ini.
“Alhamdulilah, SR 1.400 “, jawab Ammar.

Prince langsung memerintahkan bendahara untuk menghitung 1.400 Real dikali dengan 5 tahun (60 bulan). Dan hasilnya adalah SR 84.000 (84 Ribu Real = Rp. 184. 800.000). Lalu Prince menyerahkan uang tersebut kepada Ammar.

Tubuh Amar gemetar melihat keajaiban dihadapannya, belum selesai bibir mengucapkan Al Hamdalah, Prince menghampiri dan memeluknya seraya berkata:
“Aku tahu cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan. Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini, lalu kembalilah setelah 3 bulan. Saya siapkan tiket untuk kamu dan keluargamu kembali ke kota Riyadh. Jadilah Bilal di masjidku dan hiduplah bersama kami di Palace ini.“

Ammar tak dapat menahan air matanya. Ia bukan terharu karena menerima sejumlah uang walau uang itu sangat besar artinya bagi keluarganya yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini benar. Allah sungguh sungguh memperhatikan hambanya, kesabaran selama lima tahun berakhir dengan indah. Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan Ammar.

Semua berubah dalam sekejap, lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Ammar. Tapi nothing imposible for Allah, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak.

Ini kisah nyata yang tokohnya masih berada di kota Riyadh. Saat ini Ammar hidup cukup di sebuah rumah di dalam istana milik Prince. Ammar dianugerahi Allah hidup yang baik didunia, menjabat sebagai Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat kota Riyadh.
Subhanallah….seperti itulah buah dari kesabaran.

Buah Kesabaran Itu Manis Pada Akhirnya

“Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya.
Jika kamu mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu cukup berarti pribadimu belum mampu menetapi kesabaran. Karena Sabar itu tak ada batasnya. Batas kesabaran itu terletak didekat pintu Syurga dalam naungan keridhaan Nya”.

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

”Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar. Dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (Al Fushilat 35)

Allahu akbar! Maha Benar Allah dengan segala Firman Nya.

Kisah nyata yang memberi pelajaran pada kita semua. Insya Allah yg terbaik akan diberikan Allah pada mereka yang berdo’a dengan ikhlas dan terus berusaha.

Ikuti kisah motivasi untuk mengasah hati di facebook dan twitter Umroh Samara.

Umar dan Gadis Pemerah Susu

Umar dan Gadis Pemerah Susu

Umar dan Gadis Pemerah Susu (pesan moral harga sebuah kejujuran). Siapa yang nggak kenal Umar bin Khottob. Salah satu Kholifah Islam yang pada masa kepemimpinannya, Islam seolah menemukan ruang aplikasinya. Seorang pemimpin yang ditempa manusia terbaik sepanjang sejarah peradaban, yaitu Rasulullah saw. Tegas, adil, bijaksana dan segala kebaikan lain yang sudah sepantasnya tersemat padanya. Seorang kholifah yang rajin berjalan malam untuk sidak kehidupan sehari-hari rakyatnya. Seorang yang awalnya memusuhi dakwah Islam, kemudian jadi pembela syariatnya. Lain halnya dengan Gadis dalam cerita ini. Bukan keturunan orang terpandang, tidak pernah disebut dalam sejarah siapa bapaknya. Seolah ia hidup dalam didikan seorang ibu yang single parent kalau dalam istilah sekarangnya. Tapi berkat kejujurannya, kisah hidupnya mendunia.

Umar dan Gadis Pemerah Susu
Gadis Pemerah Susu yang Jujur

Umar dan Gadis Pemerah Susu dalam Obrolan Malam dengan sang Ibu

Umar adalah kholifah yang terkenal dengan gelar Amirul Mukminin. Sudah menjadi kebiasaan Umar tiap malam berkeliling pelosok kota Madinah, untuk mengecek kehidupan rakyatnya. Ketika melewati sebuah gubuk, Khalifah Umar merasa curiga melihat lampu yang masih menyala. Di dalamnya terdengar suara orang berbisik-bisik.
Khalifah Umar menghentikan langkahnya. Beliau penasaran ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Dari balik bilik Kalifah umar mengintipnya. Tampaklah seorang ibu dan anak perempuannya sedang sibuk mewadahi susu.

“Bu, kita hanya mendapat beberapa kaleng hari ini,” kata anak perempuan itu.
“Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit.”
“Benar anakku,” kata ibunya.
“Tapi jika padang rumput mulai menghijau lagi pasti kambing-kambing kita akan gemuk. Kita bisa memerah susu sangat banyak,” harap anaknya.
“Hmmm….., sejak ayahmu meninggal penghasilan kita sangat menurun. Bahkan dari hari ke hari rasanya semakin berat saja. Aku khawatir kita akan kelaparan,” kata ibunya.
Anak perempuan itu terdiam. Tangannya sibuk membereskan kaleng-kaleng yang sudah terisi susu.
“Nak,” bisik ibunya seraya mendekat.

Menolak Perintah Orang Tua, jika Bermaksiat kepada Allah

“Kita campur saja susu itu dengan air. Supaya penghasilan kita cepat bertambah.”
Anak perempuan itu tercengang. Ditatapnya wajah ibu yang keriput. Wajah itu begitu lelah dan letih menghadapi tekanan hidup yang amat berat. Ada rasa sayang yang begitu besar di hatinya. Namun, ia segera menolak keinginan ibunya.
“Tidak, bu!” katanya cepat.
“Khalifah melarang keras semua penjual susu mencampur susu dengan air. Ia teringat sanksi yang akan dijatuhkan kepada siapa saja yang berbuat curang kepada pembeli.
“Mengapa engkau dengarkan Khalifah itu? Setiap hari kita selalu miskin dan tidak akan berubah kalau tidak melakukan sesuatu,” sela ibunya kesal.
“Ibu, hanya karena kita ingin mendapat keuntungan yang besar, lalu kita berlaku curang pada pembeli?”
“Tapi, tidak akan ada yang tahu kita mencampur susu dengan air! Tengah malam begini tak ada yang berani keluar. Khalifah Umar pun tidak akan tahu perbuatan kita,” kata ibunya tetap memaksa.”Ayolah, Nak, mumpung tengah malam. Tak ada yang melihat kita!”
“Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur susu dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti mengetahui segala perbuatan kita serapi apa pun kita menyembunyikannya”, tegas anak itu. 
Ibunya hanya menarik nafas panjang. Sekalipun agak kecewa dengan keputusan anaknya, namun di lubuk hatinya ia begitu kagum akan kejujuran anaknya itu.
“Aku tidak mau melakukan ketidak-jujuran pada waktu ramai maupun sepi. Aku yakin Allah tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap saat,”kata anak itu. 
Tanpa berkata apa-apa, ibunya pergi ke kamar. Sedangkan anak perempuannya menyelesaikan pekerjaannya hingga beres. Di luar bilik, Khalifah Umar tersenyum kagum akan kejujuran anak perempuan itu.
” Sudah sepantasnya ia mendapatkan hadiah!” gumam khalifah Umar. Khalifah Umar beranjak meniggalkan gubuk itu.Kemudian ia cepat-cepat pulang ke rumahnya.

Umar dan Gadis Pemerah Susu yang Akhirnya Diambil Sebagai Menantunya

Keesokan paginya, Khalifah Umar memanggil putranya, Ashim bin Umar. Di ceritakannya tentang gadis jujur penjual susu itu.
” Anakku, menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya, ” kata khalifah Umar. “
“Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai gadis jujur seperti dia. Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang Maha Melihat.”
Ashim bin Umar menyetujuinya. Beberapa hari kemudian Ashim melamar gadis itu. Betapa terkejut ibu dan anak perempuan itu dengan kedatangan rombongan khalifah dan putranya. Mereka mengkhawatirkan akan di tangkap karena suatu kesalahan.
“Tuan, saya dan anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual susu. Tuan jangan tangkap kami….,” sahut ibu tua ketakutan. Putra khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak menyunting anak gadisnya.   “Bagaimana mungkin?   Tuan adalah seorang putra khalifah , tidak selayaknya menikahi gadis miskin seperti anakku?” tanya seorang ibu dengan perasaan ragu.
” Khalifah adalah orang yang tidak ,membedakan manusia. Sebab, hanya taqwa lah yang meninggikan derajat seseorang di sisi Allah,” kata Ashim sambil tersenyum.
“Ya. Aku lihat anakmu sangat jujur,” kata Khalifah Umar. Anak gadis itu saling berpandangan dengan ibunya. Bagaimana khalifah tahu? Bukankah selama ini ia belum pernah mengenal mereka.
“Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar pembicaraan kalian…,” jelas khalifah Umar.   Ibu itu bahagia sekali. Khalifah Umar ternyata sangat bijaksana. Menilai seseorang bukan dari kekayaan tapi dari kejujurannya.
Umar dan Gadis Pemerah Susu
Si Gadis Pemerah Susu yang Jujur akhirnya Jadi Menantu Kholifah Umar

Khalifah yang Adil & Bijaksana itu ternyata Cucu Umar dan Gadis Pemerah Susu

Sesudah Ashim menikah dengan gadis itu, kehidupan mereka sangat bahagia. Keduanya membahagiakan orangtuanya dengan penuh kasih sayang.
Dari kedua pasangan yang bersih inilah kelak akan lahir keturunan seorang yang akan menjadi khalifah umat Islam. Yaitu cucu mereka yang bernama Umar bin Abdul Aziz. Yang menjadi khalifah dengan gaya kepemimpinan sangat mirip seperti pendahulunya yaitu Umar bin Khaththab.
Menurut suatu riwayat, ketika Beliau (Umar bin Abdul Aziz) dinobatkan menjadi Khalifah, beliau ketakutan luar biasa. Beliau selama 3 hari 3 malam mengurung diri karena menahan beratnya tanggung jawab yang akan dipikulnya. Kehidupannya berubah dari berkecukupan harta menjadi miskin dan menerima gaji hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari keluarganya saja. Beliau menolak gaji tinggi. Badannya yang dulu gemuk menjadi kurus selama menjadi khalifah.
Ketika asistennya menceritakan mimpinya bahwa di dalam mimpinya itu dipaparkan pendahulu-pendahulu khalifah. Yang diseret ke neraka satu persatu. Ketika tibanya menceritakan tentang diri beliau (Umar bin Abdul Aziz) dalam mimpi tersebut, Khalifah Umar bin Abdul Aziz langsung pingsan. Setelah siuman lalu diberitahu bahwa beliau melewati shirathal mustaqim dengan selamat hingga ke Syurga… Demikianlah kisah Khlifah Umar dan gadis Pemerah susu, semoga ada manfaatnya.

Pesan Moral Kisah Umar dan Gadis Pemerah Susu

Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari kisah Umar dan Gadis Pemerah Susu. Kisah yang selalu up to date dari masa Umar bin Khottob, sekarang dan yang akan datang. Beberapa kesimpulan yang bisa saya catat dari kisah di atas.
  1. Jika Anda pemimpin, jadilah seperti Umar, yang begitu peduli, perhatian dan tanggung jawab pada rakyatnya. Buat regulasi yang tegas untuk kemakmuran rakyat.
  2. Jika Anda orang tua, carikan jodoh untuk anak-anak mu orang yang jujur, patokan utama adalah agamanya.
  3. Untuk para gadis, teruslah berperilaku jujur. Jodoh itu urusan Allah, akan diberikan kepada siapapun yang di Kehendaki-Nya.
  4. Coba bayangkan berapa anak kecil yang akan terpercik susu yang didalamnya ada dusta/kecurangan, susu itu membentuk perilaku anak yang pendusta.
  5. Kejujuran itu pasti berbuah, entah berapa lama. Hingga dari keturunan Umar dan gadis pemerah susu itu lahirlah seorang kholifah yang jujur, amanah dan adil.

Ikuti terus kisah terbaik, untuk motivasi diri dalam kebaikan di facebook Umroh Samara dan twitter kami. Silahkan share ke sahabat dan sanak family agar semakin viral efek kebaikannya.

 

Kisah Umrohnya Nabi Muhammad

Kisah Umrohnya Nabi Muhammad

Umroh saat ini sudah menjadi life style / gaya hidup masyarakat. Berbondong-bondong tiap hari umat Islam dari berbagai penjuru datang ke Makkah Madinah untuk menunaikan ibadah umroh. Ada yang seumur hidup baru sekali menginjakkan kaki di Tanah Suci. Namun tak sedikit yang sudah berulang kali umroh, ada yang tiap tahun berangkat umroh. Bahkan ada yang dua atau tiga kali umroh dalam setahun. Banyak umat Islam yang tidak tahu kisah umrohnya Nabi Muhammad saw. Berapa kali Nabi Muhammad saw melaksanakan umroh dalam hidupnya?

Kisah Umrohnya Nabi Muhammad SAW

Kisah Umrohnya Nabi Muhammad
Kisah Umrohnya Nabi Muhammad

Kaum Muslim yang dipimpin Nabi Muhammad SAW semuanya berpakaian Ihram putih. Umat Islam tidak membawa senjata karena tujuan mereka Ke Makkah adalah untuk beribadah di Ka’bah. Inilah kisah umrohnya nabi Muhammad saw yang pertama.

Mendekati kota Makkah kaum Muslimin berhenti dan berkemah disuatu tempat bernama Hudaibiyah. Kaum Muslimin yang siap berjihad di tenda-tenda mereka sudah tidak sabar untuk masuk ke Makkah. Untuk melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah.

Kaum Qurais bersiap-siap menghadang mereka dengan kekerasan dan tegang. Dipuncak ketegangan ini kaum Qurais mengirim Suhail bin Arm untuk berunding dengan Nabi Muhammad SAW. Setelah menjalani perundingan yang alot akhirnya dicapai kesepakatan.

Rasulullah setuju untuk membatalkan tawaf ke Ka’bah tahun ini. Kembali bersama pengikutnya ke Madinah dan baru boleh kembali tahun berikutnya. Sesuai perjanjian pada waktu itu kaum Qurais akan meninggalkan Makkah selama tiga hari. Untuk memberi kesempatan Nabi dan kaum Muslimin melaksanakan umroh. Kesepakatan ini dinamaka Perjanjian Hudaibiyah.

Umroh Qadha Pengganti Umroh Pertama Yang Tertahan di Haudaibiyah

Sungguh itu bukan pemandangan lazim. Hari itu, kaum Qurais berbondong-bondong meninggalkan Makkah. Tua, muda dan anak-anak, laki-laki maupun perempuan, tanpa kecuali. Orang-orang itu mendaki bukit-bukit di sekitar Makah. Perhatian mereka tertuju pada kepulan debu yang membubung dari arah utara.

Ya, dari utara, dari arah Madinah sekitar 2000 orang tengah mendekati Makah. Mereka adalah rombongan Nabi Muhammad Rasulullah. Setahun sebelumnya, dalam jumlah yang lebih kecil, Nabi Muhammad dan para sahabat telah mencoba memasuki Mekah untuk ziarah. Perjalanan itu tertahan di Hudaibiyah. Nabi dan rombongan tidak dibolehkan masuk Makkah. Nabi suka damai, karena niat awal memang mau umroh, sehingga umat Islam saat itu tidak mengadakan perlawanan. Akhirnya di tempat itu kedua pihak meneken perjanjian. Dalam perjanjian itu, Muhammad dan rombongan baru boleh datang ke Makah setahun kemudian. Jika saat itu tiba, kaum Qurais akan menyingkir sementara dari Makah.

Setahun telah berlalu. Pada bulan suci ini, Nabi Muhammad benar-benar datang bersama umat Islam lainnya. Mereka semua larut dalam seruan “labbaika, labbaika” yang tak putus-putusnya membahana. Sudah sekitar tujuh tahun meninggalkan kota tempat ka’bah itu berada. Kini “rumah Allah” tersebut telah berada di hadapannya. Inilah kisah umrohnya Nabi Muhammad yang kedua, karena yang pertama gagal di Hudaibiyah.

Muhammad menyelempangkan jubah ke pundak kirinya. Dibiarkannya pundak dan lengan kanannya terbuka. Saat itu pula, ia berdoa “Allahumarham, amra-a arahumulyauma min nafsihi quwwata.”

Yang artinya “Ya Allah, berikan rahmat kepada orang yang hari ini telah memperlihatkan kemampuan dirinya.”

Nabi Melaksanakan Thawaf

Nabi Muhammad lalu melangkah menyentuh hajar aswad di sudut ka’bah. Lalu Beliau berlari kecil hingga Rukun Yamani atau sudut selatan yang merupakan sudut ketiga. Kemudian berjalan kembali untuk menyentuh hajar aswad. Hal demikian dilakukannya tiga kali. Selebihnya Muhammad mengelilingi ka’bah dengan arah yang berlawanan dengan putaran jarum jam itu dengan berjalan kaki. Ribuan umat Islam mengikuti setiap gerakan Muhammad. Sebuah pemandangan yang mempesona orang-orang Qurais yang menyaksikan dari lereng-lereng bukit.

Abdullah bin Rawaha tidak dapat menahan diri untuk larut dalam suasana tersebut. Ia nyaris meneriakkan tantangan perang pada Qurais. Namun Umar bin Khattab mencegahnya. Sebagai pelampiasannya, Umar menyarankan Abdullah untuk meneriakkan kata yang sekarang cukup terkenal sampai sekarang. Yaitu “La ilaha illallah wahdah, wanashara abdah, wa’a’azza jundah, wakhadalal ahzaba wahdah”.  Yang artinya “Tiada Tuhan selain Allah Yang Esa, yang menolong hamba-Nya, memperkuat tentara-Nya dan menghancurkan sendiri musuh yang bersekutu.”

Abdullah terus mengulang-ulang kalimat tersebut yang diikuti hampir seluruh umat Islam. Kata-kata itu terus bergema, menghunjam hati-hati orang Qurais yang hanya dapat menyaksikan dari jauh.

Nabi Muhammad Melaksanakan Sa’i

Usai mengelilingi ka’bah, Muhammad yang mengendarai kendaraannya, menuju bukit Shafa. Dari sana Rasul bergerak ke bukit Marwa, dan kembali ke bukit Shafa lagi hingga tujuh kali perjalanan. Perjalanan yang sekarang disebut sa’i ini diyakini sebagai upaya menapaktilasi perjuangan keluarga Nabi Ibrahim, khususnya Siti Hadjar. Saat membangun baitullah, berabad-abad sebelumnya. Usai Sa’i, sesuai tradisi orang-orang Arab masa itu, Muhammad pun bercukur rambut atau tahalul kemudian memotong kurban.

Esok harinya, Muhammad memasuki ka’bah dan terus berada di sana sampai tiba salat dzuhur. Sebagaimana di Madinah, Bilal bin Rabah, kemudian naik ke atap bangunan untuk mengumandangkan azan. Rasul pun menjadi imam salat berjamaah di sana, di antara patung-patung yang masih banyak terdapat di sekitar ka’bah.

Muhammad tinggal di Mekah selama tiga hari. Setelah itu, ia dan rombongan kembali ke Madinah. Ada dua keuntungan yang diperolehnya dalam perjalanan kali ini. Ia dan rombongan bukan saja dapat menunaikan ibadah umrah -yang sering disebut pula sebagai Umrah Pengganti (Umratul Qadha). Sebaliknya Nabi Muhammad juga berhasil merebut hati tokoh-tokoh penting Qurais.

Hikmah Ilaihiyah dari Kisah Umrohnya Nabi Muhammad SAW

Saat Muhammad di perjalanan menuju Madinah itu, Khalid bin Walid mengejarnya dan menyatakan diri masuk Islam. Khalid adalah seorang muda yang menjadi komandan paling cerdik pasukan Qurais. Kelak ia banyak berperan dalam sejumlah ekspedisi militer kalangan Islam. Setelah Khalid, Amr bin Ash serta Ustman anak Talha yang menjadi penjaga ka’bah, menyusul masuk Islam. Setelah Rasul wafat, Amr banyak menimbulkan persoalan terutama menyangkut perselisihannya dengan Ali bin Abu Thalib.

Umrah ditunaikan. Kota Mekah tinggal sesaat lagi untuk sepenuhnya berada dalam kendali Rasulullah.

Pengikut Nabi SAW, yaitu kaum Muhajirin dan kaum Anshar telah menyatu di Madinah yang sudah sepenuhnya dikuasai umat Islam. Secara militer posisi Nabi Muhammad SAW sudah jauh lebih kuat. Setelah menghadapi tiga perang penting, Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq atau Perang Ahzab.

Kejatuhan Makkah yang dikuasai Qurais tinggal menunggu waktu. Dan semakin melemah akibat blokade ekonomi kaum Muslim yang menguasai jalur perdagangan dengan Syiria.

Demikianlah secara singkat kisah umrohnya Nabi Muhammad Saw. Umroh yang ketiga terjadi setelah Raslullah menaklukan Makkah. Sedang umroh ke empat atau yang terakhir dilaksanakan Rasulullah saat Haji Wada’. Jadi dalam sejarah hidupnya Rasulullah 3 kali melaksanakan umroh.

Dipersembahkan oleh: umrohsamara.com Ikuti informasi terkait Umroh dan Haji di facebook melalui fan page Umroh Samara.

Disadur dari kisah umrohnya Nabi Muhammad saw